Keranjang Takakura merupakan salah satu inovasi komposting skala rumah tangga paling sukses dan legendaris di Indonesia. Ditemukan oleh Koji Takakura dari JPEC (Japan Polyethylene Corporation) yang bermitra dengan Pemerintah Kota Surabaya (DKRTH) dan Kitakyushu International Techno-cooperative Association (KITA) pada era 2004–2005, metode ini berhasil menekan timbulan sampah kota Surabaya hingga lebih dari 30%.
Keunggulan utama keranjang Takakura adalah sistem aerobik berventilasi yang memanfaatkan bantalan sekam dan biakan mikroorganisme lokal (starter bakteri fermentasi). Dengan aerasi teratur dan kelembapan terkontrol, bakteri mengurai sisa makanan tanpa menghasilkan bau busuk menyengat maupun cairan lindi berlebih.
Langkah 1: Prinsip Dasar Keranjang dan Bantalan Sekam Padi
Keranjang Takakura menggunakan wadah berlubang (keranjang cucian plastik) yang dilapisi kain kardus/kain kasa berpori serta bantalan sekam padi di bagian dasar dan atas. Bantalan sekam ini berfungsi ganda: menyediakan sirkulasi oksigen bebas bagi bakteri aerob sekaligus menyerap aroma tak sedap dari fermentasi.
Langkah 2: Pembuatan Starter Mikroorganisme Fermentatif
Starter mikroorganisme dapat dibuat menggunakan biakan alami berbahan dasar air cucian beras, tempe, gula merah, dan ragi tape atau menggunakan bakteri pengurai siap pakai. Mikroba ini bekerja cepat mengurai karbohidrat, selulosa, dan protein dari sisa sayur dan buah dalam waktu 24 hingga 48 jam.
Langkah 3: Perawatan Harian dan Pengadukan Rutin
Setiap memasukkan sisa makanan cincang, aduk perlahan media kompos ke arah tengah keranjang, lalu tutup kembali dengan bantalan sekam atas dan kain penutup. Suhu di dalam keranjang akan meningkat hingga 40–50°C, menandakan bakteri aerob sedang aktif mengurai materi organik secara optimal.
Sumber & Referensi Resmi
1. Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya - Sejarah dan Panduan Pembuatan Kompos Keranjang Takakura.
2. Kitakyushu International Techno-cooperative Association (KITA) & JICA - 'Surabaya Waste Management Model: Community-Based Composting Project'.
3. Pusat Penelitian Biologi LIPI (sekarang Organisasi Riset Hayati BRIN) - Efektivitas Mikroorganisme Lokal dalam Degradasi Bahan Organik Urban.
4. Badan Kebijakan Transportasi & Lingkungan Kementerian PUPR - Panduan Teknologi Sanitasi dan Pengolahan Sampah Skala Permukiman.
