Mitigasi Bencana & Iklim 16 Okt 2026 • 7 min read

Tragedi Leuwigajah dan Kebakaran Sarimukti: Bahaya Gas Metana Sampah Organik dan Solusi Dekomposisi Aerobik

Bagikan:
Tragedi Leuwigajah dan Kebakaran Sarimukti: Bahaya Gas Metana Sampah Organik dan Solusi Dekomposisi Aerobik

Tragedi longsor Leuwigajah 2005 yang menewaskan 143 jiwa dan kebakaran Sarimukti 2023 membuktikan dahsyatnya bahaya akumulasi gas metana di TPA. Pengomposan aerobik mencegah metana terbentuk 100%.

Dua peristiwa kelam dalam sejarah persampahan nasional—tragedi longsor TPA Leuwigajah pada tahun 2005 dan kebakaran dahsyat TPA Sarimukti pada Agustus 2023—menjadi peringatan keras tentang bahaya membuang sampah organik ke tempat pembuangan akhir. Keduanya dipicu oleh satu faktor fundamental yang sama: gas metana (CH4) yang terperangkap di bawah gunungan sampah organik basah.

Memahami sains di balik pembentukan gas metana dan menghentikan pengiriman sampah organik ke TPA melalui metode pengomposan mandiri bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup hijau, melainkan kewajiban mitigasi bencana lingkungan.

Kronologi Tragedi Leuwigajah 2005: 143 Nyawa Melayang

Pada dini hari 21 Februari 2005, gunungan sampah setinggi lebih dari 60 meter di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, meledak dan meluncur sejauh 1 kilometer. Longsoran sampah basah menimbun dua perkampungan (Kampung Cilimus dan Kampung Pojok) dan menewaskan 143 orang. Penyelidikan geoteknik menyimpulkan bahwa hujan deras memicu terperangkapnya kantong-kantong gas metana bertekanan tinggi hasil dekomposisi anaerobik sampah makanan, memicu ledakan internal yang meruntuhkan kestabilan bukit sampah.

Kebakaran Sarimukti 2023: Darurat Asap Selama 30 Hari

Delapan belas tahun kemudian, pada Agustus hingga September 2023, TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat mengalami kebakaran bawah permukaan (subsurface fire) seluas 16,5 hektar. Api yang membakar bara gas metana di lapisan dalam gunungan sampah sulit dipadamkan selama lebih dari 30 hari, menyebabkan lumpuhnya sistem pembuangan sampah Bandung Raya dan mengakibatkan lebih dari 1.000 warga terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Karakter Fisik Gas Metana: 28x Lebih Merusak dari CO2

Menurut Laporan IPCC Sixth Assessment Report (AR6), gas metana memiliki sifat tanpa warna, tanpa bau, dan sangat mudah meledak pada konsentrasi 5% hingga 15% di udara. Potensi pemanasan globalnya mencapai 28 kali lebih tinggi dibandingkan CO2 dalam jangka 100 tahun, dan melonjak hingga 84 kali lipat dalam horizon 20 tahun. Menimbun sampah organik di TPA sama dengan memproduksi gas rumah kaca super-intensif secara massal.

Keunggulan Dekomposisi Aerobik: CH4 Nol Persen

Solusi ilmiah untuk meniadakan gas metana adalah dengan metode dekomposisi aerobik dan fermentasi asam laktat. Pada sistem komposter berventilasi atau komposter tertutup dengan inokulan mikroba aktif, proses perombakan materi organik diarahkan menghasilkan asam amino, humus, dan uap air minimal. Gas metana tidak akan pernah terbentuk karena oksigen dan bakteri aerob mendominasi ekosistem dekomposisi.

Sumber & Referensi Resmi

1. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) - Sejarah dan Latar Belakang Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).
2. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat - Laporan Tanggap Darurat Bencana Kebakaran TPA Sarimukti 2023.
3. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) - Sixth Assessment Report: The Physical Science Basis.
4. Departemen Teknik Geologi & Teknik Lingkungan ITB - Analisis Mekanika Keruntuhan Lereng dan Pelepasan Gas Landfill Leuwigajah.

Bagikan artikel ini

Bantu sebarkan kesadaran pengolahan sampah organik ramah lingkungan ke teman dan keluarga Anda.

Siap Memulai Kompos Mandiri di Rumah?

Gunakan komposter kedap udara kami untuk hasil pupuk cair berkualitas tanpa bau.

Lihat Produk Komposter →